Sabtu, 18 April 2009

INFORMASI MEDIA TENTANG KITAB MAKNA ALA PESANTREN (PETUK)

(Duta Masyarakat)
Jumat, 24 Oktober 2008
Ponpes Hidayatut Tulab, Petuk Semen, Kab Kediri
Tetap Setia Ngaji Klasik dan
Publikasikan Ratusan Kitab Kuning


SEPINTAS keberadaan Ponpes Hidayatut Tulab di Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri barangkali tak beda jauh dengan pesantren lain yang bertebaran di Kediri dan Jawa Timur pada umumnya. Hanya, yang sedikit beda, inilah mungkin salah satu pesantren yang hingga kini tetap setia ngaji klasik.

Dari bawah keremangan cahaya mentari yang mulai menyembul, samar-samar terlihat belasan santri menulis huruf Arab kecil-kecil di bawah setiap kata yang tertera dalam kitab kuning, di lantai dua Ponpes Hidayatut Tulab. Sesekali mereka tertinggal satu sampai dua kata saat membubuhkan makna harfiah lantaran cepatnya bacaan sang kiai yang memimpin pengajian Subuh itu.

Sepintas lalu huruf Arab berukuran kecil yang dituliskan para santri di sela-sela dan di bawah kata-kata dalam kitab kuning itu berupa kode untuk melambangkan kedudukannya sesuai dengan Tata Bahasa Arab. Namun ada juga huruf Arab yang ditulis dengan tinta Cina bermata kecil itu adalah Bahasa Jawa atau biasa disebut dengan Huruf Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab). Sang kiai itu pun menutup pengajian tanpa memberikan keterangan mengenai isi yang terkandung dalam kitab kuning tersebut.

Model pengajian seperti inilah yang biasa dilakukan oleh kiai di Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Kiai pondok pesantren salaf itu memang masih setia dengan kurikulum pendidikan klasik (sorogan) dalam mengaji kitab-kitab kuning kepada para santrinya.

Sejak tahun 1993, pondok ini sudah mempublikasikan 115 judul kitab kuning dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa. Pemberian makna sempit pada setiap kata dalam 115 judul kitab kuning itu telah dicetak secara massal oleh Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab dan didistribusikan seantero Nusantara.

Kalau dihitung harian, rata-rata omzet kami bisa mencapai Rp 1 juta. Tapi pada bulan Ramadhan bisa mencapai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per hari karena banyaknya pondok pesantren yang menggelar pengajian kilatan, kata Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Tulab, Ruslin Nafi uddin.

Selain Bahasa Jawa, pengkajian kitab kuning juga dilakukan dengan menggunakan Bahasa Sunda, seperti dilakukan Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Manonjaya Ciamis, dan sejumlah ponpes salaf lainnya di Jawa Barat.

Kalimat Bahasa Arab yang ada di dalam kitab kuning bisa juga dibubuhi makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Madura, seperti di Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan dan ponpes salaf lainnya di Pulau Madura dan sebagian kawasan Tapal Kuda di Jawa Timur. Lalu, mengapa tidak ada yang memberikan makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia?

Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia, tandas Pengasuh Ponpes Hidayatut Tulab, KH Achmad Yasin Asmuni.

Ia kemudian menjelaskan, untuk menunjuk kata di dalam kitab kuning yang berkedudukan sebagai mubtada (subyek), para santri membubuhinya dengan huruf Arab mim atau diterjemahkan sebagai utawi dalam Bahasa Jawa.

Saya sendiri belum pernah tahu, apa artinya utawi itu di dalam Bahasa Indonesia karena utawi berbeda dengan atau. Ini baru hal yang paling mendasar dalam mengaji kitab kuning, belum lagi yang mendalam, terang dia.

Oleh sebab itu, Kiai Yasin menambahkan, hal ini merupakan tantangan bagi para akademisi dan pakar Bahasa Indonesia untuk meneliti lebih jauh mengenai kemungkinan penggunaan Bahasa Indonesia dalam memberikan makna harfiah pada sejumlah kitab kuning. Apalagi santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura.

Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa harus belajar Bahasa Jawa terlebih dulu. (As ad An-Nawawi)




Mengaji Kitab Kuning Seba Instan


Oleh M. Irfan Ilmie

Surabaya (ANTARA News) - Jika ingin menjadi pengasuh pondok pesantren salaf, maka seseorang setidaknya mampu menguasai kitab kuning. Ini merupakan syarat tidak tertulis untuk menjadi pengasuh pondok pesantren salaf.

Sampai sekarang memang belum ada kajian sejarah mengenai asal-muasal kitab kuning. Namun banyak naskah para ulama pasca Khulafaur Rasyidin berkuasa ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab tanpa harakat.

Kebanyakan naskah para ulama dari berbagai disiplin ilmu itu ditulis di atas kertas kuning sehingga orang sering menyebutnya sebagai “Kitab Kuning” atau “Kitab Gundul” karena memang tidak ada harakat layaknya Kitab Al Quran yang beredar di Indonesia.

Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu lama.

Rata-rata para pendiri pondok pesantren salaf di seantero Pulau Jawa belajar membaca kitab kuning ini secara khusus dengan rentang waktu yang cukup lama dalam bilangan belasan atau bahkan puluhan tahun.

Untuk memahami isi kitab kuning, seseorang harus menguasai Tata Bahasa Arab. Biasanya para santri di lingkungan pondok pesantren salaf membutuhkan waktu dua sampai empat tahun untuk mendalami Tata Bahasa Arab mulai dari Ilmu Nahwu, Ilmu Shorrof, sampai pada tingkatan lebih tinggi lagi seperti Ilmu Balaghah dan Ilmu Mantiq.

Setelah ilmu-ilmu tersebut dikuasai bukan berarti seorang santri akan dengan mudah menerjemahkan kitab-kitab kuning karya para ulama salaf. Di luar jam pelajaran sekolah diniyah di pondok pesantren, para santri menyisihkan waktunya untuk mengaji kitab kuning kepada pengasuh pondok atau ustadz.

Bahkan pada saat Ramadhan yang mestinya libur panjang setelah ujian akhir tahun, digunakan para santri salaf dengan mengaji kitab kuning dengan cara kilatan. Disebut kilat karena pelaksanaan pengajian kitab kuning dikebut selama satu bulan Ramadhan. Jika kitab terdiri dari dua sampai empat juz (satu juz bisa terdiri dari 300 sampai 400 halaman), maka pengajian dilaksanakan mulai ba`da shubuh sampai pukul dua dinihari berikutnya agar tamat dalam waktu satu bulan.

Metode pengajiannya pun sesuai tradisi salaf, yakni pengasuh atau ustadz membaca naskah Bahasa Arab lengkap dengan mengartikan sesuai bahasa daerah tempat pondok itu berada, sementara santri mendengarkan sambil membubuhkan arti kata bahasa daerah di setiap kalimat.

Di kalangan santri salaf cara memberikan makna seperti itu disebut dengan istilah “ngesahi”. Alat tulis yang digunakan adalah mata pena dan tinta China yang sudah dicairkan dengan serat pohon pisang lalu ditampung ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari kuningan.

Zaman telah berubah, sebagian tradisi salaf itu pun mulai banyak di tinggalkan kalangan santri. Alat tulisnya tidak lagi mata pena yang dicelupkan pada tinta China, namun sudah menggunakan pulpen bermata kecil yang biasanya banyak digunakan para arsitektur.

“Memang harganya relatif mahal, tapi bisa tahan lama seperti tinta China yang prosesnya butuh waktu lama,” kata Syamsul Huda, salah seorang santri di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur.

Oleh sebab itu, di sekitar ponpes yang kini memasuki usia ke-97 itu banyak ditemukan tempat-tempat reparasi alat tulis buatan Jerman itu.

“Soalnya kalau jatuh sedikit, mata pena bisa langsung bengkok dan macet. Kalau diberikan mata pena saja harganya hampir sama dengan beli baru, makanya lebih baik direparasi saja,” katanya.

Ini baru sebatas alat tulis yang sudah mengalami perubahan. Belum lagi ada sebagian pondok pesantren yang terpaksa mendengar rekaman suara pengasuh. Hal ini sangat beralasan, mengingat tidak setiap waktu para pengasuh yang kebanyakan sudah berusia udzur itu cukup kuat mengisi secara penuh jadwal pengajian mulai dari pagi sampai larut malam dengan waktu istirahat, saat salat berjamaah lima waktu dan buka puasa serta salat tarawih.

Kemudian yang sekarang menjadi tren adalah kitab kuning dengan dilengkapi makna Bahasa Jawa. Kalangan santri salaf menyebutnya dengan “Kitab bima`na Petuk” lantaran kitab kuning bermakna ini dipopulerkan oleh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab di Dusun Petuk, Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Sudah hampir 15 tahun ini ponpes yang berada di kaki Gunung Wilis itu mampu menyita perhatian publik salaf karena gagasannya mencetak kitab kuning dengan dilengkapi makna Bahasa Jawa itu telah memberikan kemudahan bagi santri salaf.

Kitab bima`na Petuk itu tidak hanya dijual di Pulau Jawa saja. “Tapi kami juga telah memenuhi permintaan sejumlah pondok pesantren di Lampung, Palembang, Pontianak, bahkan sampai Mataram,” kata Salim Miftahul Hujjaj, selaku pengelola Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab yang menjadi distributor tunggal “Kitab bima`na Petuk”.

Menurut dia, dalam sehari omzet penjualan kitab tersebut telah mencapai angka Rp1 juta. Sedang pada saat menjelang puasa dan menjelang tahun ajaran baru yang biasanya jatuh setiap bulan Syawal omzetnya meningkat bisa mencapai Rp3 juta sampai 4 juta per hari. Sampai saat ini sudah ada sekitar seratus judul naskah kitab kuning yang telah dilengkapi makna Bahasa Jawa.

Salim mengungkapkan, awal mencetak kitab bermakna itu iseng belaka. Kitab kuning milik beberapa orang santri yang sudah penuh makna hasil pengajian selama bertahun-tahun tersebut diperbanyak di sebuah perusahaan percetakan di Mojokerto.

Kemudian kitab kuning cetakan bermakna itu dijual di kalangan santri Ponpes Hidayatut Thullab. Perlahan tapi pasti, kitab kuning yang kemudian disebut dengan “Kitab bima`na Petuk” itu mendapat perhatian dari kalangan santri salaf di berbagai daerah.

Lalu timbul pertanyaan, apakah dengan beredarnya “Kitab bima`na Petuk” para santri sudah tidak perlu lagi mengaji dalam waktu yang lama?

Sebagian besar kalangan santri salaf mengaku masih perlu mengaji sebagai media “tabarukan” atau ajang untuk mendapatkan berkah dari pengasuh atau ustadz yang membacakan kitab tersebut.

“Kitab bima`na Petuk ini hanya sebagai muqabalah (perbandingan) antara makna yang tertera di dalam kitab dan makna yang dibacakan pengasuh,” kata Nabil Harun, pengurus Ponpes Lirboyo, Kota Kediri.

Selain itu, lanjut pria asal Temanggung, Jateng itu, dengan adanya “Kitab bima`na Petuk”, seorang santri tidak perlu lagi susah-susah mencari temannya untuk membaca ulang karena tertinggal atau ketiduran saat pengajian berlangsung.

Demikian halnya dengan Luqman Hakim, alumni santri Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, yang tetap menjadikan “Kitab bima`na Petuk” sebagai referensi di setiap acara pengajian yang dipimpinnya di Surabaya dan Pasuruan itu.

“Tidak semua jadwal pengajian dulu bisa saya ikuti di pondok. Kitab Petuk yang saya beli biasanya kitab yang belum atau tidak pernah saya ikuti pengajiannya,” katanya beralasan.

Menurut dia, keberadaan “Kitab bima`na Petuk” bukan berarti santri akan malas belajar. Kendati sudah ada maknanya, tapi bukan berarti orang awam akan dengan mudah bisa membacanya.

“Untuk membaca Kitab Petuk, seseorang tetap harus paham ilmu Tata Bahasa Arab, karena tulisan yang tertera di bawah tulisan Arab hanya berupa simbol dan arti kata yang jarang didengar,” katanya menambahkan. (*)



Dari Petuk Tembus ke Mesir
Berita Terkini Mitra 97FM

Kediri - Meski tidak melulu digunakan oleh santri bersuku Jawa, kitab kuning bermakna Petuk semuanya ditulis dalam bahasa Jawa berhuruf Arab. Biasanya, pondok yang membeli kitab ini menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. “Kosa kata bahasa Jawa itu banyak. Bahasa Indonesia tak mampu menampung pengertian bahasa Arab,” kata K.H. Yasin Asymuni.

Bagaimana dengan santri luar Jawa? Asymuni punya kiat tersendiri, yakni dengan memberi pemaknaan. Menurut Asymuni, kurang lebih dalam dua bulan, santri bisa memahami kandungan bahasa Jawa dalam proses pemaknaan. “Kitab kuning yang sudah kami maknai setidaknya bisa menjadi perbandingan dalam melakukan penafsiran makna,” katanya.

Untuk bisa memaknai atau menafsirkan kitab kuning, modal utamanya adalah ilmu shorrof-nahwu, ilmu struktural bahasa. Jika biasanya membutuhkan waktu lima tahun untuk mempelajari ilmu shorrof-nahwu, di Petuk cukup tiga tahun. Dua tahun untuk belajar shorrof dan setahun untuk nahwu.

Atas terobosan mem-by pass pemahaman kitab klasik ini, pada 2004 Asymuni sempat didatangi para orientalis dari sebuah perguruan tinggi di Chicago Amerika. Mereka menganugerahinya gelar profesor. “Saya menghargai mereka saja karena sudah datang jauh-jauh ke sini untuk belajar Kitab Petuk,” katanya.

Bagi Asymuni, kitab kuning tidak melulu kitab-kitab tua. “Kitab kuning itu kitab yang kutubul muktabaroh (bisa diterima) oleh pondok pesantren salaf dan tidak melanggar ajaran ahli sunnah wal jamaah,” ujarnya.

Contoh kitab baru tapi masuk dalam kategori kitab kuning adalah “Fiqhul Islam” yang ditulis sekitar 1995. Sedangkan kitab klasik yang ditulis oleh ulama Indonesia di antaranya kitab “Sirojul Tholibbin”. Kitab yang memperjelas kitab Minhajul Abidin yang ditulis oleh Imam Ghozali itu ditulis oleh (almarhum) Syech Ikhsan dari Pondok Pesantren Jampes, Putih, Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Kitab Sirojul Tholibbin itu kini sudah menjadi bacaan wajib mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Kitab kuno lain yang merupakan buah tangan ulama Indonesia adalah kitab “Sullamut Taufiq” yang ditulis oleh Imam Nawawi dari Banten pada 1358 Hijriah.(*kt/rizky/www.mitrafm.com)



Penjualan Kitab Kuning Meningkat
Kompas/Krishna P Panolih


KEDIRI, RABU--Memasuki hari ketiga bulan Ramadan, omzet penjualan kitab kuning lengkap dengan makna bahasa Jawa yang diproduksi Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, meningkat.

Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab, Ruslin Nafi’uddin, Rabu (3/9) mengatakan, omzet penjualan kitab kuning bermakna selama bulan puasa ini meningkat sekitar 100 persen. "Jika pada hari-hari biasa, omzet kami hanya Rp1 juta, selama bulan Ramadan ini menjadi Rp2 juta/hari," katanya.

Berbeda dengan kitab-kitab kuning lainnya, kitab kuning bermakna yang diproduksi Ponpes Petuk itu sejak beberapa tahun terakhir kian digemari kalangan santri ponpes salaf.

"Selain lebih memudahkan karena dilengkapi dengan makna, harganya tak begitu mahal dibandingkan dengan kitab kuning biasanya," kata Ruslin.

Oleh sebab itu, kitab kuning produksi ponpes salaf ini merambah ke sejumlah ponpes salaf yang berada di Pulau Jawa, Lampung, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat.

"Biasanya mereka meminta kiriman 15 hari menjelang puasa karena digunakan untuk ’ngaji’ kilatan di sejumlah ponpes itu," katanya.

Sampai saat ini Ponpes Petuk telah memberikan makna bahasa Jawa pada 115 judul kitab kuning, mulai dari harga termurah Rp5.000,00 sampai Rp440 ribu.

Namun, untuk Kitab Ihya’ Al ’Ulumuddin karya Imam Al Ghazali setebal empat jilid (juz) yang sudah dilengkapi makna bahasa Jawa, kini sudah tidak ada lagi di koperasi ponpes itu. "Kitab ini sudah habis. Kami masih akan mencetak lagi. Karena untuk mencetak Kitab Ihya’ bermakna ini paling tidak harus ada modal satu unit mobil Kijang Innova sebagai jaminan kepada perusahaan percetakan. Tahun lalu kami juga begitu," katanya.

Kitab bermakna yang diproduksi oleh para santri Ponpes Petuk sejak tahun 1993 itu di kalangan santri ponpes salaf sudah tidak asing lagi.

Para santri menganggap kitab kuning produksi Petuk itu merupakan metode baru dalam sistem pengajian kitab kuning di sejumlah ponpes salaf. "Jadi, santri tidak takut lagi ketinggalan dari bacaan kiainya karena di kitabnya sudah ada maknanya. Kalau dulu, santri yang tertinggal harus menambal dengan cara meminta temannya menirukan bacaan kiai tadi," kata Nabil Harun, santri Ponpes Lirboyo. (ANT)





Santri Tafsir Kitab Kuning Menurun Drastis

Kamis, 04 September 2008 | 13:23 WIB

TEMPO Interaktif , Kediri: Jumlah santri yang mengaji tafsir kitab kuning (kitab salaf atau klasik) selama bulan Ramadan terus mengalami penurunan secara drastis dari tahun ke tahun. Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Puh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur hanya diikuti 20 orang santri. Padahal tahun sebelumnya selalu diikuti lebih dari 200 orang santri.

"Penurunan jumlah santri terjadi sejak kenaikan BBM tahun 2005 lalu. Mungkin karena faktor ekonomi. Untuk datang ke sini butuh biaya transportasi," kata KH Ahmad Yasin Asymuni, pengasuh pondok pesantren yang terkenal dengan sebutan Pondok Petuk, Kamis (4/8).

Para santri itu merupakan santri tamu (santri kilat) yang kedatangannya ke Pondok Petuk hanya selama bulan Ramadan. Selain dari pondok pesantren sekitar Pulau Jawa, para santri kilat berasal dari Lampung, Medan dan Pontianak. Mereka belajar memaknai kitab-kitab klasik mulai tanggal 15 Sya'ban hingga 20 Ramadan. Mereka mendapat bimbingan khusus untuk memaknai kitab kuning di tempat terpisah dari ratusan santri penghuni Pondok Petuk.

"Meskipun dengan jumlah santri sedikit, program ini terus kami lakukan untuk memberi kesempatan santri tamu belajar memaknai kitab kuning," kata KH Ahmad Yasin Asymuni.

Dengan dibimbing KH Yassin Asymuni, kitab yang paling populer dimaknai atau ditafsirkan pada bulan suci Ramadan adalah kitab Syamsul Ma'arif yang mengupas tentang kesehatan dan dunia kedokteran. Selain itu juga kitab-kitab klasik lain seperti Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghozali atau Hidayatul Thibyan.

Di sisi lain, meski jumlah santri tamu terus menurun, namun penjualan kitab kuning bermakna (kitab kuning yang telah dimaknai) produksi Pondok Petuk cenderung meningkat, khususnya pada bulan Ramadan. Jika pada hari-hari omzet penjualan hanya berkisar antara Rp 1 juta per hari, meningkat menjadi Rp 2 juta per hari.

"Seluruh pesantren di tanah air mengambil kitab kuning yang telah diberi makna dari sini. Kami kirim lewat paket," kata Ruslin Nafiudin, Ketua Koperasi Pondok Petuk.

Harga kitab berkisar dari Rp 2.500 hingga Rp 500 ribu, tergantung tebal tipisnya kitab. Dari 115 kitab klasik yang telah dimaknai para santri Petuk, yang paling laris dibeli pada saat Ramadan adalah kitab Ihya Ulumudin karangan Imam Ghozali. Kitab dengan 4 jus (jilid) itu dibanderol dengan harga Rp 440 ribu. "Bagi seorang santri, tidak afdol rasanya belajar agama jika tidak mampu memaknai kitab kuning," kata Ruslin.

Tempo| Dwidjo U Maksum





Penjualan Kitab Kuning Bermakna Meningkat

Kediri - Omzet penjualan kitab kuning lengkap dengan makna Bahasa Jawa yang diproduksi Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Pohrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur selama bulan Ramadhan ini terus meningkat.
Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab, Ruslin Nafi'uddin, Rabu mengatakan, omzet penjualan kitab kuning bermakna selama bulan Ramadhan ini meningkat sekitar 100 persen.
"Jika pada hari-hari biasa, omzet kami hanya Rp1 juta. Maka selama bulan Ramadhan ini menjadi Rp2 juta per hari," katanya mengungkapkan.
Berbeda dengan kitab-kitab kuning lainnya, kitab kuning bermakna yang diproduksi Ponpes Petuk itu sejak beberapa tahun terakhir kian digemari kalangan santri ponpes salaf.
"Selain lebih memudahkan, karena dilengkapi dengan makna, harganya tak begitu mahal dibandingkan dengan kitab kuning biasanya," kata Ruslin.
Oleh sebab itu, kitab kuning produksi Ponpes Salaf ini merambah ke sejumlah ponpes salaf yang berada di Pulau Jawa, Lampung, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat.
"Biasanya mereka meminta kiriman 15 hari menjelang puasa karena digunakan untuk ngaji kilatan di sejumlah ponpes itu," katanya.
Sampai saat ini Ponpes Petuk telah memberikan makna Bahasa Jawa pada 115 judul kitab kuning, mulai dari harga termurah Rp5.000 hingga Rp440.000.
Namun untuk Kitab Ihya' Al 'Ulumuddin karya Imam Al Ghazali setebal empat jilid (juz) yang sudah dilengkapi makna Bahasa Jawa, kini sudah tidak ada lagi di koperasi ponpes itu.
"Kitab ini sudah habis. Kami masih akan mencetak lagi, karena untuk mencetak Kitab Ihya' bermakna ini paling tidak harus ada modal satu unit mobil Kijang Innova sebagai jaminan kepada perusahaan percetakan. Tahun lalu kami juga begitu," katanya.
Kitab bermakna yang diproduksi oleh para santri Ponpes Petuk sejak tahun 1993 itu di kalangan santri ponpes salaf sudah tidak asing lagi.
Para santri menganggap kitab kuning produksi Petuk itu merupakan metode baru dalam sistem pengajian kitab kuning di sejumlah ponpes salaf.
"Jadi santri tidak takut lagi ketinggalan dari bacaan kiainya, karena di kitabnya sudah ada maknanya. Kalau dulu, santri yang tertinggal harus menambal dengan cara meminta temannya menirukan bacaan kiai tadi," kata Nabil Harun, santri Ponpes Lirboyo.





Agar Kitab Gundul Tak Mandul
(Tempo)

Sejak 1995, Pesantren Hidayatut Thullab Kediri memilih mendalami kitab-kitab kuning.

Beberapa anak yang bersarung dan berkopiah itu tampak serius. Sambil duduk berhadap-hadapan, mereka tampak tekun membaca kitab-kitab yang ada di hadapannya.

Itulah salah satu kesibukan para santri Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Pesantren ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Petuk--mengacu pada letak pondok yang ada di Dusun Petuk.

Lokasinya memang agak terpencil atau terletak di pemukiman pedesaan di kaki Gunung Wilis. Dari Kabupaten Kediri berjarak sekitar 20 hingga 25 kilometer.

Para santri itu datang dari Lampung, Medan, dan Pontianak. Kedatangan mereka tak lain adalah untuk memaknai kitab-kitab klasik.

Sejak 2005 lalu, jumlah santri tamu memang menurun dibanding dengan jumlah pada Ramadan sebelumnya. Biasanya ada 200 santri, kini tinggal 20 santri tamu. "Mungkin karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)," kata KH. Ahmad Yasin Asymuni.

Berangkat dari niat membantu santri memahami kitab kuning, pesantren ini menawarkan solusi praktis mencetak kitab kuning--ditulis dengan huruf arab tanpa harakat--yang sudah dimaknai. Biasanya kitab ini juga disebut kitab gundul.

Untuk membaca dan memaknai kitab ini tentu diperlukan keahlian khusus. Di sinilah pesantren yang berdiri pada 1993 dan diasuh oleh KH. Ahmad Yasin Asymuni itu bertekad menekuni pemaknaan terhadap kitab-kitab gundul.

Sejak 1995, tradisi memaknai kitab kuning sudah menghasilkan 115 judul kitab, baik karangan ulama negeri Timur Tengah, jazirah Arab, maupun ulama Indonesia sendiri.

"Kitab kuning yang sudah kami maknai dipakai oleh hampir semua pondok salaf di seluruh Indonesia," kata Asymuni kepada Tempo, Kamis.

Setiap tahun sedikitnya 10 judul kitab sudah dimaknai. Tiap judul dicetak rata-rata sebanyak 25 ribu eksemplar, kemudian dijual ke semua pondok pesantren yang membutuhkan. Selain dipesan oleh pengasuh pesantren di Pulau Jawa, kitab Petuk juga diminta oleh pesantren di luar Jawa, mulai dari Lampung, Medan, Pontianak, Makassar, Madura, Lombok, hingga Ternate.

Harga kitab Petuk berkisar Rp 2.500 hingga Rp 500 ribu, tergantung tebal-tipisnya kitab. Dari 115 kitab klasik yang telah dimaknai, yang paling laku laris pada bulan Ramadan adalah kitab Ihya Ulumudin karangan Imam Ghozali.

Kitab empat jus (jilid) itu dibanderol dengan harga Rp 440 ribu. Pada saat Ramadan, omzet penjualan kitab Petuk meningkat, dari Rp 1 juta per hari menjadi Rp 2 juta per hari. "Pengiriman kitab ke seluruh pesantren di Tanah Air menggunakan jasa paket," kata Ruslin Nafiudin, Ketua Koperasi Pondok Petuk. DWIDJO U. MAKSUM




Bahasa Indonesia Tak Sekaya Bahasa Jawa?
Rab, 10.09.2008, 10:13pm (GMT7)

Oleh: M. Irfan Ilmie

Di lantai dua sebuah pondok pesantren, belasan santri menulis huruf Arab kecil-kecil di bawah setiap kata yang tertera dalam kitab kuning. Sesekali mereka tertinggal satu sampai dua kata saat membubuhkan makna harfiah lantaran cepatnya bacaan sang kiai yang memimpin pengajian subuh itu.

Sepintas lalu huruf Arab berukuran kecil yang dituliskan para santri di sela-sela dan di bawah kata-kata dalam kitab kuning itu berupa kode untuk melambangkan kedudukannya sesuai dengan Tata Bahasa Arab.

Namun ada juga huruf Arab yang ditulis dengan tinta Cina bermata kecil itu adalah Bahasa Jawa atau biasa disebut dengan Huruf Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab).

Setelah matahari sudah bergeser sepersekian derajat dari zawal, sang kiai itupun menutup pengajian tersebut tanpa memberikan keterangan mengenai isi yang terkandung dalam kitab kuning tersebut.

Model pengajian seperti inilah yang biasa dilakukan oleh kiai di Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kiai pondok pesantren salaf itu memang masih setia dengan kurikulum pendidikan klasik dalam mengaji kitab-kitab kuning kepada para santrinya.

Sejak tahun 1993, pondok ini sudah mempublikasikan 115 judul kitab kuning dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa. Pemberian makna sempit pada setiap kata dalam 115 judul kitab kuning itu telah dicetak secara massal oleh Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab dan didistribusikan seantero Nusantara. "Kalau dihitung harian, rata-rata omzet kami bisa mencapai Rp1 juta. Tapi pada bulan Ramadan bisa mencapai Rp2 juta sampai Rp3 juta per hari karena banyaknya pondok pesantren yang menggelar pengajian kilatan," kata Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab, Ruslin Nafi’uddin.

Mengapa Bukan Bahasa Indonesia?

Selain Bahasa Jawa, pengkajian kitab kuning juga dilakukan dengan menggunakan Bahasa Sunda, seperti dilakukan Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Manonjaya Ciamis, dan sejumlah ponpes salaf lainnya di Jawa Barat.

Kata-kata Bahasa Arab yang ada di dalam kitab kuning bisa juga dibubuhi makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Madura, seperti di Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan dan ponpes salaf lainnya di Pulau Madura dan sebagian kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.

Lalu, mengapa tidak ada yang memberikan makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia? "Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia," kata Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, K.H. Achmad Yasin Asmuni.

Ia kemudian menjelaskan, untuk menunjuk kata di dalam kitab kuning yang berkedudukan sebagai "mubtada" (subyek), para santri membubuhinya dengan huruf Arab "mim" atau diterjemahkan sebagai "utawi" dalam Bahasa Jawa. "Saya sendiri belum pernah tahu, apa artinya ’utawi’ itu di dalam Bahasa Indonesia karena utawi berbeda dengan ’atau’. Ini baru hal yang paling mendasar dalam mengaji kitab kuning, belum lagi yang mendalam," katanya.

Bukan hal yang aneh, jika sebuah kata di dalam Bahasa Arab yang terdapat dalam kitab kuning mengandung beberapa pengertian yang panjang dan terperinci jika dikaji dengan menggunakan Tata Bahasa Arab yang baik dan benar.

Oleh sebab itu, Kiai Yasin menambahkan, hal ini merupakan tantangan bagi para akademisi dan pakar Bahasa Indonesia untuk meneliti lebih jauh mengenai kemungkinan penggunaan Bahasa Indonesia dalam memberikan makna harfiah pada sejumlah kitab kuning.

Apalagi santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura. Bahkan sampai sekarang masih banyak santri-santri ponpes salaf di Pulau Jawa berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Beberapa provinsi itu, termasuk Papua selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali.

Namun demikian, lanjut Kiai Yasin, Bahasa Indonesia hanya bisa digunakan untuk menyimpulkan isi kandungan (makna murad) di dalam kitab kuning seperti dalam ajang MQK yang memungkinkan para peserta saling berdebat. "Tapi kalau digunakan untuk memberikan makna harfiah secara sempit seperti yang lazim dipelajari santri salaf, sampai detik ini belum bisa," kata kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu.

Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa harus belajar Bahasa Jawa terlebih dulu.

Kitab Kuning di Indonesia

Sejauh ini belum ada kajian sejarah mengenai awal mula metode pembelajaran kitab kuning di Indonesia. Sebagian ada yang menyebutkan, sejak zaman Wali Sanga, namun ada juga yang menyebutkan, jauh setelah periode wali sembilan penyebar agama Islam di Pulau Jawa itu. "Namun berdasar cerita para ulama sepuh zaman dulu, yang meletakkan dasar-dasar mempelajari kitab kuning dengan menggunakan Bahasa Jawa adalah Mbah Sholeh Darat yang hidup sekitar 150 tahun lalu," kata Kiai Yasin.

Selain berasal dari negara-negara di Jazirah Arab, kitab kuning yang dipelajari para santri salaf saat ini juga ada yang berasal dari Indonesia, diantaranya Sullamut Taufiq (Banten), Atturmusi (Pacitan), dan Sirajut Tholibin (Jampes, Kediri).

Para santri di ponpes salaf sendiri sudah terbiasa memepelajari Tata Bahasa Arab sesuai dengan pakemnya melalui beberapa literatur mulai dari yang terendah seperti Aljurumiyah hingga kasta tertinggi seperti Alfiyah Ibnu Malik.

Para santri dan kiai memiliki disiplin tinggi dalam mengaji kitab kuning baik mengenai fikih, tasawuf, hadits, maupun tafsir karena selalu mencermati kata demi kata yang ada di dalamnya.

Kitab kuning yang dipelajari para santri ponpes salaf itu umumnya adalah "kitab mutabarah" atau kitab yang valid menjadi rujukan untuk menjawab berbagai macam problematika kehidupan.

Sebenarnya warna kuning dalam kitab-kitab itu hanya kebetulan, lantaran dahulu kala belum ada kertas yang putih seperti sekarang ini. Oleh sebab itu sesuai dengan perkembangannya, kitab-kitab kuning itu kini sudah dicetak dengan berbagai jenis kertas berkualitas. Bahkan sebagian masyarakat sudah mengoleksinya untuk menjadi sebuah hiasan di rumah, masjid, atau perpustakaan.

Sebuah ironi, jika sampai saat ini Bahasa Indonesia yang telah puluhan tahun menjadi "Lingua Franca" masyarakat Kepulauan Nusantara ini belum mampu memaknai kitab kuning secara harfiah.
kompas/antara




Beranda | Liputan Khusus
(Antara Jatim)
Senin, 08 Sept 2008 07:33:59
Bahasa Indonesia Bukan Untuk Kitab Kuning ?

Di lantai dua sebuah pondok pesantren, belasan santri menulis huruf Arab kecil-kecil di bawah setiap kata yang tertera dalam kitab kuning.

Sesekali mereka tertinggal satu sampai dua kata saat membubuhkan makna harfiah lantaran cepatnya bacaan sang kiai yang memimpin pengajian subuh itu.

Sepintas lalu huruf Arab berukuran kecil yang dituliskan para santri di sela-sela dan di bawah kata-kata dalam kitab kuning itu berupa kode untuk melambangkan kedudukannya sesuai dengan Tata Bahasa Arab.

Namun ada juga huruf Arab yang ditulis dengan tinta Cina bermata kecil itu adalah Bahasa Jawa atau biasa disebut dengan Huruf Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab).

Setelah matahari sudah bergeser sepersekian derajat dari zawal, sang kiai itupun menutup pengajian tersebut tanpa memberikan keterangan mengenai isi yang terkandung dalam kitab kuning tersebut.

Model pengajian seperti inilah yang biasa dilakukan oleh kiai di Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kiai pondok pesantren salaf itu memang masih setia dengan kurikulum pendidikan klasik dalam mengaji kitab-kitab kuning kepada para santrinya.

Sejak tahun 1993, pondok ini sudah mempublikasikan 115 judul kitab kuning dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa. Pemberian makna sempit pada setiap kata dalam 115 judul kitab kuning itu telah dicetak secara massal oleh Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab dan didistribusikan seantero Nusantara.

"Kalau dihitung harian, rata-rata omzet kami bisa mencapai Rp1 juta. Tapi pada bulan Ramadan bisa mencapai Rp2 juta sampai Rp3 juta per hari karena banyaknya pondok pesantren yang menggelar pengajian kilatan," kata Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab, Ruslin Nafi'uddin.
Mengapa Bukan Bahasa Indonesia?
Selain Bahasa Jawa, pengkajian kitab kuning juga dilakukan dengan menggunakan Bahasa Sunda, seperti dilakukan Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Manonjaya Ciamis, dan sejumlah ponpes salaf lainnya di Jawa Barat.

Kalimat Bahasa Arab yang ada di dalam kitab kuning bisa juga dibubuhi makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Madura, seperti di Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan dan ponpes salaf lainnya di Pulau Madura dan sebagian kawasan Tapal Kuda Jawa Timur.

Lalu, mengapa tidak ada yang memberikan makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia?

"Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia," kata Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, K.H. Achmad Yasin Asmuni.

Ia kemudian menjelaskan, untuk menunjuk kata di dalam kitab kuning yang berkedudukan sebagai "mubtada" (subyek), para santri membubuhinya dengan huruf Arab "mim" atau diterjemahkan sebagai "utawi" dalam Bahasa Jawa.

"Saya sendiri belum pernah tahu, apa artinya 'utawi' itu di dalam Bahasa Indonesia karena utawi berbeda dengan 'atau'. Ini baru hal yang paling mendasar dalam mengaji kitab kuning, belum lagi yang mendalam," katanya.

Bukan hal yang aneh, jika sebuah kata di dalam Bahasa Arab yang terdapat dalam kitab kuning mengandung beberapa pengertian yang panjang dan terperinci jika dikaji dengan menggunakan Tata Bahasa Arab yang baik dan benar.

Oleh sebab itu, Kiai Yasin menambahkan, hal ini merupakan tantangan bagi para akademisi dan pakar Bahasa Indonesia untuk meneliti lebih jauh mengenai kemungkinan penggunaan Bahasa Indonesia dalam memberikan makna harfiah pada sejumlah kitab kuning.

Apalagi santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura.

Bahkan sampai sekarang masih banyak santri-santri ponpes salaf di Pulau Jawa berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Beberapa provinsi itu, termasuk Papua selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali.

Namun demikian, lanjut Kiai Yasin, Bahasa Indonesia hanya bisa digunakan untuk menyimpulkan isi kandungan (makna murad) di dalam kitab kuning seperti dalam ajang MQK yang memungkinkan para peserta saling berdebat.

"Tapi kalau digunakan untuk memberikan makna harfiah secara sempit seperti yang lazim dipelajari santri salaf, sampai detik ini belum bisa," kata kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu.

Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa harus belajar Bahasa Jawa terlebih dulu.

Kitab Kuning di Indonesia
Sejauh ini belum ada kajian sejarah mengenai awal mula metode pembelajaran kitab kuning di Indonesia. Sebagian ada yang menyebutkan, sejak zaman Wali Sanga, namun ada juga yang menyebutkan, jauh setelah periode wali sembilan penyebar agama Islam di Pulau Jawa itu.

"Namun berdasar cerita para ulama sepuh zaman dulu, yang meletakkan dasar-dasar mempelajari kitab kuning dengan menggunakan Bahasa Jawa adalah Mbah Sholeh Darat yang hidup sekitar 150 tahun lalu," kata Kiai Yasin.

Selain berasal dari negara-negara di Jazirah Arab, kitab kuning yang dipelajari para santri salaf saat ini juga ada yang berasal dari Indonesia, diantaranya Sullamut Taufiq (Banten), Atturmusi (Pacitan), dan Sirajut Tholibin (Jampes, Kediri).

Para santri di ponpes salaf sendiri sudah terbiasa memepelajari Tata Bahasa Arab sesuai dengan pakemnya melalui beberapa literatur mulai dari yang terendah seperti Aljurumiyah hingga kasta tertinggi seperti Alfiyah Ibnu Malik.

Para santri dan kiai memiliki disiplin tinggi dalam mengaji kitab kuning baik mengenai fikih, tasawuf, hadits, maupun tafsir karena selalu mencermati kata demi kata yang ada di dalamnya.

Kitab kuning yang dipelajari para santri ponpes salaf itu umumnya adalah "kitab mutabarah" atau kitab yang valid menjadi rujukan untuk menjawab berbagai macam problematika kehidupan.

Sebenarnya warna kuning dalam kitab-kitab itu hanya kebetulan, lantaran dahulu kala belum ada kertas yang putih seperti sekarang ini.

Oleh sebab itu sesuai dengan perkembangannya, kitab-kitab kuning itu kini sudah dicetak dengan berbagai jenis kertas berkualitas. Bahkan sebagian masyarakat sudah mengoleksinya untuk menjadi sebuah hiasan di rumah, masjid, atau perpustakaan.

Sebuah ironi, jika sampai saat ini Bahasa Indonesia yang telah puluhan tahun menjadi "Lingua Franca" masyarakat Kepulauan Nusantara ini belum mampu memaknai kitab kuning secara harfiah.




(Media Indonesia)
Minggu, 07 September 2008 00:01 WIB
HARFIAH
Bahasa Indonesia belum Bisa Terjemahkan Kitab Kuning


KEDIRI (MI): Bahasa Indonesia belum bisa digunakan untuk menerjemahkan secara harfiah beberapa kitab kuning yang dipelajari di pondok-pondok pesantren salaf (klasik) di Indonesia.
Kritik terhadap kelemahan bahasa Indonesia tersebut disampaikan Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, KH Achmad Yasin Asmuni, kemarin. "Sepertinya kosakata bahasa Indonesia itu tidak sekaya bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan bahasa Indonesia," katanya.
Ponpes Hidayatut Thullab merupakan satu-satunya pondok pesantren salaf di Indonesia yang aktif memproduksi kitab kuning dengan makna bahasa Jawa. Sejak 1993 sampai sekarang, pondok pesantren yang berada di lereng Gunung Wilis itu telah menerjemahkan 115 judul kitab kuning ke dalam bahasa Jawa.
Kiai Yasin mengatakan, selain bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Sunda bisa digunakan untuk memberikan makna sejumlah kitab kuning itu. "Saya sendiri heran, seharusnya bahasa Indonesia bisa digunakan untuk memaknai setiap kata dalam kitab kuning itu. Seharusnya ini juga menjadi tantangan bagi pakar bahasa Indonesia dengan terlebih dulu membandingkan bahasa Jawa dalam memaknai kitab kuning," ujar kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar doktor honoris causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu.
Kondisi tersebut dampaknya sangat dirasakan para santri. Sebab, selama ini santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura. Banyak santri ponpes salaf berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Beberapa provinsi itu, termasuk Papua, selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang musabaqoh qiroatil kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali.(Ant/M-4)

Arsip Berita :





Kitab Kuning Belum Bisa Diterjemahkan
Kompas/Krishna P Panolih /Sabtu, 6 September 2008 | 15:45 WIB

KEDIRI, SABTU--Bahasa Indonesia belum bisa digunakan untuk menerjemahkan secara harfiah beberapa kitab kuning yang dipelajari di pondok-pondok pesantren salaf (klasik) di Indonesia. "Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia," kata Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, K.H. Achmad Yasin Asmuni, Sabtu.

Ponpes Hidayatut Thullab merupakan satu-satunya pondok pesantren salaf di Indonesia yang aktif memproduksi kitab kuning dengan makna Bahasa Jawa. Sejak tahun 1993 sampai sekarang pondok pesantren yang berada di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri itu telah menerjemahkan 115 judul kitab kuning ke dalam Bahasa Jawa. Kiai Yasin mengatakan, selain Bahasa Jawa ada Bahasa Madura dan Bahasa Sunda yang bisa digunakan untuk memberikan makna sejumlah kitab kuning itu. "Saya sendiri heran, seharusnya Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk memaknai setiap kata dalam kitab kuning itu. Seharusnya ini juga menjadi tantangan bagi pakar Bahasa Indonesia dengan terlebih dulu membandingkan Bahasa Jawa dalam memaknai kitab kuning," katanya. Padahal selama ini santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura. Bahkan sampai sekarang masih banyak santri-santri ponpes salaf berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Beberapa provinsi itu, termasuk Papua selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali. Menurut Kiai Yasin, Bahasa Indonesia hanya bisa digunakan untuk menyimpulkan isi kandungan (makna murad) di dalam kitab kuning. "Tapi kalau digunakan untuk memberikan makna harfiah secara sempit seperti yang lazim dipelajari santri salaf belum bisa," kata kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu. Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa menyempatkan diri untuk belajar Bahasa Jawa. Sejauh ini belum ada sejarah mengenai awal mula pembelajaran kitab kuning di Indonesia. "Namun berdasar cerita para ulama sepuh zaman dulu, yang meletakkan dasar-dasar mempelajari kitab kuning dengan menggunakan Bahasa Jawa adalah Mbah Sholeh Ndarat yang hidup sekitar 150 tahun lalu," katanya. Selain berasal dari negara-negara di Jazirah Arab, kitab kuning yang dipelajari para santri salaf saat ini juga ada yang berasal dari Indonesia, diantaranya Sullamut Taufiq (Banten) dan Sirajut Tholibin (Jampes, Kediri). (ANT)
Rank




(BANJARMASIN POS)
Kitab Kuning Belum Bisa Diterjemahkan
Laporan: KOMPAS.com
Sabtu, 06-09-2008 | 18:03:41

KEDIRI, BPOST-Bahasa Indonesia belum bisa digunakan untuk menerjemahkan secara harfiah beberapa kitab kuning yang dipelajari di pondok-pondok pesantren salaf (klasik) di Indonesia.

"Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia," kata Pengasuh Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, K.H. Achmad Yasin Asmuni, Sabtu (6/9).

Ponpes Hidayatut Thullab merupakan satu-satunya pondok pesantren salaf di Indonesia yang aktif memproduksi kitab kuning dengan makna Bahasa Jawa.

Sejak tahun 1993 sampai sekarang pondok pesantren yang berada di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri itu telah menerjemahkan 115 judul kitab kuning ke dalam Bahasa Jawa.

Kiai Yasin mengatakan, selain Bahasa Jawa ada Bahasa Madura dan Bahasa Sunda yang bisa digunakan untuk memberikan makna sejumlah kitab kuning itu. "Saya sendiri heran, seharusnya Bahasa Indonesia bisa digunakan untuk memaknai setiap kata dalam kitab kuning itu. Seharusnya ini juga menjadi tantangan bagi pakar Bahasa Indonesia dengan terlebih dulu membandingkan Bahasa Jawa dalam memaknai kitab kuning," katanya.

Padahal selama ini santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura. Bahkan sampai sekarang masih banyak santri-santri ponpes salaf berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Beberapa provinsi itu, termasuk Papua selama ini juga aktif mengirimkan santrinya dalam ajang Musabaqoh Qiroatil Kutub (lomba baca kitab kuning) tingkat nasional yang rutin digelar Departemen Agama setiap dua tahun sekali.

Menurut Kiai Yasin, Bahasa Indonesia hanya bisa digunakan untuk menyimpulkan isi kandungan (makna murad) di dalam kitab kuning. "Tapi kalau digunakan untuk memberikan makna harfiah secara sempit seperti yang lazim dipelajari santri salaf belum bisa," kata kiai muda yang dipromosikan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari sebuah perguruan tinggi di Inggris itu.

Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa menyempatkan diri untuk belajar Bahasa Jawa.

Sejauh ini belum ada sejarah mengenai awal mula pembelajaran kitab kuning di Indonesia. "Namun berdasar cerita para ulama sepuh zaman dulu, yang meletakkan dasar-dasar mempelajari kitab kuning dengan menggunakan Bahasa Jawa adalah Mbah Sholeh Ndarat yang hidup sekitar 150 tahun lalu," katanya.

Selain berasal dari negara-negara di Jazirah Arab, kitab kuning yang dipelajari para santri salaf saat ini juga ada yang berasal dari Indonesia, diantaranya Sullamut Taufiq (Banten) dan Sirajut Tholibin (Jampes, Kediri). (ANT)



(NU Online)
Toko Kitab Kewalahan Penuhi Permintaan Menjelang Ramadhan
Selasa, 4 September 2007 21:45

Kediri, NU Online
Toko-toko kitab di Kediri, Jawa Timur, kewalahan memenuhi permintaan para santri dari berbagai daerah menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, bahkan persediaan untuk jenis kitab tertentu sudah habis.

"Sampai sekarang kami masih menerima permintaan beberapa kitab kuning dari berbagai daerah. Tapi sayang, kami tidak bisa memenuhi karena memang stoknya terbatas," kata Salim Miftahul Hujjaj, pengelola Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Selasa.

Kitab-kitab nukilan yang dikeluarkan Ponpes Petuk sejak beberapa tahun terakhir ini, menjadi buruan kaum santri salaf di pelosok Tanah Air, khususnya menjelang bulan puasa.

Selain hurufnya besar-besar, kitab-kitab yang dinukil dari beberapa karya ulama salaf itu, dilengkapi dengan makna Bahasa Jawa yang tertera di bawah naskah kitab tersebut.

Menurut Salim, jika pada hari-hari biasa omset penjualan kitab di koperasinya berkisar pada angka Rp2 juta, tapi menjelang bulan puasa ini sudah mencapai Rp4 juta per hari.

"Sebagian besar pondok-pondok salaf sudah ada yang memulai ngaji kilatan sejak pertengahan bulan Sya’ban lalu. Makanya untuk kitab jenis tertentu, kami tidak memiliki persediaan sama sekali," katanya.

Ia menyebutkan, beberapa permintaan kitab dari ponpes salaf di Jateng, Jabar, Lampung, dan Sulawesi Selatan sampai sekarang belum bisa dikirimkan, karena barangnya tidak ada.

Kewalahan memenuhi permintaan juga dialami koperasi di Ponpes Lirboyo, Kota Kediri. "Pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi setiap menjelang bulan puasa," kata Sobirin, seorang penjaga koperasi di Ponpes Lirboyo.

Sejak tiga hari sebelumnya, beberapa santri dari berbagai pondok pesantren di Pulau Jawa berdatangan ke Lirboyo untuk mengikuti ngaji kilatan selama bulan puasa.

"Mereka-mereka ini membeli kitabnya di sini, meskipun mungkin di rumah sudah ada. Tapi untuk tabarrukan (mencari berkah) dengan ngaji di sini, maka mereka pun belinya di sini," katanya.

Sementara pengelola Koperasi Lirboyo, M Nabil menambahkan, menjelang bulan Ramadhan ini omset penjualan kitab kuning naik hingga mencapai 100 persen.

"Tapi masih kalah jika dibandingkan pada saat awal tahun ajaran baru yang biasanya terjadi pada bulan Syawal. Hanya saja jika dibandingkan bulan-bulan biasa, omset menjelang puasa ini bisa dua kali lipat. Kalau hari-hari biasa cuma Rp1 juta sekarang bisa meningkat menjadi Rp2 juta," katanya. (ant/tob)



Disadur dari berbagai media oleh ; HABIB AFFANDIY *)
*) Dewan Pengurus Madrasah Hidayatut Thullab
email ; affandiy@gmail.com,
HP ; +6285856203079

  • Office ; PP.Hidayatut Thullab Petuk PO.BOX.03 Kediri Indonesia Telp.0354.775043

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar